Search blog.co.uk

MEMBANGUN MEREK

by Egyyasir @ 2007-08-12 - 11:50:16

Saat ini, merek (brand) semakin menjadi kebutuhan bisnis. Produk-produk sektor pertanian yang dulu lebih sebagai sebuah produk komoditi yang tidak bermerek, sekarang sudah tidak asing lagi dengan merek-mereknya. Durian bangkok, bareh solok, apel australia, jeruk siam, dan seterusnya – itulah contoh nama merek (brand name) dari merek produk sektor pertanian.

Upaya dalam membangun merek sebagai sebuah kebutuhan produk, dimulai ketika produsen ataupun penjual membuat keputusan perlu tidaknya produk diberi merek (branding). Meskipun seorang penjual bukan produsen produk, mereka dapat membuat merek bagi produk yang ia jual. Mereka dapat memesan produk yang tidak bermerek pada produsen, lalu penjual memberi mereknya sendiri terhadap produk dimaksud. Contoh terdekat dari praktek ini adalah para pebisnis di negara Singapura, yang produk dasarnya tak bermerek (unbranded product) berasal dari negara Indonesia. Merek pun dapat berupa merek lisensi.

Ketika produsen ataupun penjualan, telah memutuskan untuk memberi merek pada produknya, maka langkah selanjutnya adalah memutuskan apa merek yang hendak dilekatkan pada produk. Ini meliputi, nama, istilah, tanda, simbol, rancangan atau ciri lain, yang dapat sebagai pembeda yang unik dan bernilai antara produknya dengan produk pesaing. Gunakanlah nama, logo, simbol, dan atribut lainnya, yang unik dan bernilai, tetapi mudah untuk diingat oleh konsumen serta sesuaikan dengan konsumen target kita. Ingat, konsumen dibanjiri oleh produk, sehingga kemudahan konsumen mengingat merek menjadi penting, agar tidak gampang dilupakan konsumen.

Selanjutnya perkuat merek dengan menciptakan kesadaran dan identitas merek (brand awareness and identity). Isi merek dimaksud dengan filosofi yang sejalan dengan visi dan misi perusahaan, agar merek memiliki identitas yang jelas, tegas, dan kuat. Bila telah diciptakan identitas merek, maka komunikasikan merek ke pasar agar terbangun kesadaran konsumen dan mereka tahu akan keberadaan merek kita di pasar. Cara cepat untuk membangun kesadaran konsumen akan merek kita, adalah melalui upaya periklanan (koran, majalah, radio, televisi, maupun internet).

Pada tahap berikutnya, kita perlu menciptakan kesan atau citra merek (brand image), agar merek kita mudah diingat dan selalu melekat dibenak dan hati konsumen – menjadi top of mind and deep of heart. Pencitraan merek sangat diperlukan karena kesan atau citra merupakan personalitas merek. Kesemua langkah yang telah dijelaskan sebelumnya, lebih mengarah pada pengakuisisian atau perekrutan konsumen yang baru.
Selanjutnya, agar merek benar-benar dapat dipercaya oleh pelanggan sebagaimana janji-janji yang terkandung dalam merek (seperti kualitas, keterbaruan model, dsbnya), maka perlu diciptakan kepercayaan merek (brand trust). Penekanannya adalah untuk membina hubungan yang telah terjalin antara merek anda dengan pelanggan.

Agar merek benar-benar sukses di pasar, maka organisasi pemilik merek dimaksud harus benar-benar “berpikir seperti merek”, sebagaimana saran D.E. Knapp. Dalam hal ini, setiap orang yang ada di organisasi harus memiliki pemahaman pribadi tentang arti merek mereka dan bagaimana caranya mereka menyampaikan intisari merek, agar merek selalu ada di diri konsumen. Contoh simpelnya adalah karyawan produsen atau penjual sepeda motor A, harus terlebih dahulu dan berkelanjutan juga menggunakan sepeda motor A, jangan sepeda motor merek lain.

Memang membangun dan mengembangkan merek tidak mudah dan memerlukan pengorbanan dana yang besar. Namun saya yakin, anda dapat menemukan cara terbaik yang murah serta mudah dalam membangun dan mengembangkan merek. Viva.


 
 

KEBANGGAAN KARYAWAN

by Egyyasir @ 2007-08-12 - 11:45:20

Jika anda seorang karyawan/pegawai perusahaan/organisasi (baca : perusahaan) swasta maupun pemerintah - baik selaku atasan maupun bawahan, coba rasakan apakah anda memiliki kebanggaan terhadap perusahaan anda?

Bagi pemilik maupun manajemen perusahaan, tentu sangat berharap ada rasa bangga karyawan terhadap perusahaannya. Namun, sudahkah setiap orang dalam perusahaan benar-benar memahami kebanggaan dimaksud? Dan, bagaimana sebenarnya efek dari kebanggaan karyawan terhadap perusahaannya? Hasil studi Interbrand pada 2000 karyawan perusahaan di United Kingdom (UK), menemukan efek langsung dan tak langsung dari rasa bangga karyawan terhadap kinerja pemasaran perusahaan.

Suatu kali saya dengan sabar mendengarkan seorang teman yang begitu bersemangat menceritakan perusahaannya. Dalam pandangannya, begitu hebat perusahaan dimana ia bekerja. Penilaian saya, teman ini benar-benar memiliki kebanggaan (pride) terhadap perusahaan. Ia pun menyarankan agar saya dapat bergabung dengan perusahaannya. Lalu saya bertanya, “bagaimana dengan produk perusahaan anda?” Dari jawaban sang teman, saya mendapatkan informasi, bahwa perusahaan mereka memiliki produk yang unggul dibanding para pesaing. Bukan hanya itu, “layanannya dijamin sangat memuaskan anda deh”, lanjut sang teman. Baik produk maupun layanan yang diberikan perusahaan, benar-benar berbeda dan unik, tetapi tetap mengedepankan kualitas dan value lainnya.

“Anda tau gak, saking cinta ama perusahaan, saya bersedia dengan sukarela melebihkan waktu kerja, bukan angkatan 84 lho – masuk kerja jam delapan keluar jam empat”, ujar teman saya melanjutkan. Ia yakin, bahwa segala upaya yang dilakukan bagi kemajuan perusahaan, akan berdampak positif bagi kehidupannya (termasuk keluarga) ke depan. Karena perusahaan ibarat sebuah tubuh, maka bila ada kendala yang dihadapi oleh bidang kerja lain, ia dengan penuh keikhlasan dan tanggung-jawab, turut serta secara aktif membantu penanganan kendala dimaksud. Semua mereka merasa enjoy dengan budaya ini. “Di perusahaan, kami bekerja sangat mobile, siap setiap saat membantu teman yang menangani bidang kerja yang lain”, tukasnya sebelum mengakhiri.

Para pembaca, itulah sekelumit gambaran singkat tentang efek langsung rasa bangga karyawan terhadap perusahaannya. Mereka tanpa sungkan merekomendasikan organisasinya sebagai sebuah tempat kerja yang “benar-benar” tempat mewujudkan “mimpi indah” (recommending the organization as a great place to work). Selanjutnya, mereka juga merekomendasikan pada setiap orang yang dijumpai tentang produk dan layanan organisasinya (recommending the organization’s products and services), semua berfungsi sebagai pemasar. Mereka bekerja ekstra (putting in extra effort) secara ikhlas dan sukarela berdasarkan tanggung-jawab kolektif, serta siap setiap saat membantu kerja bidang lain (actively looking for a job elsewhere).

Kembali ke kisah di atas, “saking” serius dan semangatnya “sang” teman bercerita, saya sampai tertarik mencoba produk perusahaan tersebut. Inilah efek tak langsung adanya kebanggaan yang dimiliki seorang karyawan terhadap perusahaan. Ketika karyawan memiliki rasa bangga, maka efek akhirnya dapat menciptakan pelanggan-pelanggan baru, maupun membentuk pelanggan yang loyal. Perusahaan berhasil menciptakan budaya yang menitik-beratkan pada kepentingan pelanggan (focus to customers) bagi pencapaian tujuan perusahaan. Pemasaran bukan dipandang sebagai kewajiban satu bagian atau segelintir orang, tetapi tanggung-jawab setiap orang di perusahaan. Anda dapat membayangkan, bagaimana bila tidak ada kebanggaan karyawan terhadap perusahaannya. Sulit berharap adanya loyalitas pelanggan (customer loyalty) tanpa terlebih dahulu menciptakan dan membangun loyalitas karyawan. Ayo temukan faktor pendorong penciptaaan kebanggaan karyawan.

Pada momentum Agustus ini, patut pula para pemimpin dan kita semua menyadari pentingnya kebanggaan rakyat terhadap Negaranya maupun daerahnya, kalau kita masih ingin tetap bertahan dalam wadah ini. “Met Ultah Kemerdekaan RI ke 62 dan Ultah Emas (50 tahun) Provinsi Riau. Viva.

Footer

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.