Saat ini, merek (brand) semakin menjadi kebutuhan bisnis. Produk-produk sektor pertanian yang dulu lebih sebagai sebuah produk komoditi yang tidak bermerek, sekarang sudah tidak asing lagi dengan merek-mereknya. Durian bangkok, bareh solok, apel australia, jeruk siam, dan seterusnya – itulah contoh nama merek (brand name) dari merek produk sektor pertanian.
Upaya dalam membangun merek sebagai sebuah kebutuhan produk, dimulai ketika produsen ataupun penjual membuat keputusan perlu tidaknya produk diberi merek (branding). Meskipun seorang penjual bukan produsen produk, mereka dapat membuat merek bagi produk yang ia jual. Mereka dapat memesan produk yang tidak bermerek pada produsen, lalu penjual memberi mereknya sendiri terhadap produk dimaksud. Contoh terdekat dari praktek ini adalah para pebisnis di negara Singapura, yang produk dasarnya tak bermerek (unbranded product) berasal dari negara Indonesia. Merek pun dapat berupa merek lisensi.
Ketika produsen ataupun penjualan, telah memutuskan untuk memberi merek pada produknya, maka langkah selanjutnya adalah memutuskan apa merek yang hendak dilekatkan pada produk. Ini meliputi, nama, istilah, tanda, simbol, rancangan atau ciri lain, yang dapat sebagai pembeda yang unik dan bernilai antara produknya dengan produk pesaing. Gunakanlah nama, logo, simbol, dan atribut lainnya, yang unik dan bernilai, tetapi mudah untuk diingat oleh konsumen serta sesuaikan dengan konsumen target kita. Ingat, konsumen dibanjiri oleh produk, sehingga kemudahan konsumen mengingat merek menjadi penting, agar tidak gampang dilupakan konsumen.
Selanjutnya perkuat merek dengan menciptakan kesadaran dan identitas merek (brand awareness and identity). Isi merek dimaksud dengan filosofi yang sejalan dengan visi dan misi perusahaan, agar merek memiliki identitas yang jelas, tegas, dan kuat. Bila telah diciptakan identitas merek, maka komunikasikan merek ke pasar agar terbangun kesadaran konsumen dan mereka tahu akan keberadaan merek kita di pasar. Cara cepat untuk membangun kesadaran konsumen akan merek kita, adalah melalui upaya periklanan (koran, majalah, radio, televisi, maupun internet).
Pada tahap berikutnya, kita perlu menciptakan kesan atau citra merek (brand image), agar merek kita mudah diingat dan selalu melekat dibenak dan hati konsumen – menjadi top of mind and deep of heart. Pencitraan merek sangat diperlukan karena kesan atau citra merupakan personalitas merek. Kesemua langkah yang telah dijelaskan sebelumnya, lebih mengarah pada pengakuisisian atau perekrutan konsumen yang baru.
Selanjutnya, agar merek benar-benar dapat dipercaya oleh pelanggan sebagaimana janji-janji yang terkandung dalam merek (seperti kualitas, keterbaruan model, dsbnya), maka perlu diciptakan kepercayaan merek (brand trust). Penekanannya adalah untuk membina hubungan yang telah terjalin antara merek anda dengan pelanggan.
Agar merek benar-benar sukses di pasar, maka organisasi pemilik merek dimaksud harus benar-benar “berpikir seperti merek”, sebagaimana saran D.E. Knapp. Dalam hal ini, setiap orang yang ada di organisasi harus memiliki pemahaman pribadi tentang arti merek mereka dan bagaimana caranya mereka menyampaikan intisari merek, agar merek selalu ada di diri konsumen. Contoh simpelnya adalah karyawan produsen atau penjual sepeda motor A, harus terlebih dahulu dan berkelanjutan juga menggunakan sepeda motor A, jangan sepeda motor merek lain.
Memang membangun dan mengembangkan merek tidak mudah dan memerlukan pengorbanan dana yang besar. Namun saya yakin, anda dapat menemukan cara terbaik yang murah serta mudah dalam membangun dan mengembangkan merek. Viva.